Sabtu, 10 Maret 2018

Urusan Mimpi (1)


Saya itu tidak suka mimpi dalam tidur. Mau mimpi indah seindah-indahnya kek, mimpi buruk seburuk-buruknya kek, mimpi enggak jelas seenggak jelas-enggak jelasnya kek, bodo amat. Saya tidak suka mimpi.

Urusan mimpi sepertinya cukup panjang untuk dituliskan. Jadi akan saya tulis lengkap di masa depan nanti, semoga masih hidup. Untuk sekarang saya ingin menuliskan mimpi yang saya alami tadi malam.

Saya terbangun―entah jam berapa―dengan merasa sangat capek sekali. Memang, saya tidak ngos-ngosan, tapi refleks ketika tersadar saya langsung menarik dan mengembuskan napas berat. Lalu perasaan lelah itu masih menyergap.

Rabu, 07 Maret 2018

Bagaimana Kalau Kondektur Kereta Api?


Beberapa minggu yang lalu saya pindah tempat tinggal. Meninggalkan kota yang begitu semarak menuju kota kecil yang jauh lebih “anteng”. Saya memakai jasa kereta api dengan waktu tempuh sekitar sebelas jam.

Saya beruntung, karena bisa memesan kursi sesuai keinginan―kursi porsi dua orang, dekat toilet, dekat pintu gerbong, dan yang terpenting… dekat jendela. Benar-benar sempurna menurutku, karena sebelum-sebelumnya saya tidak pernah bisa duduk di dekat jendela.

Lalu, siapa sangka jika perjalanan itu mempertemukan pandangan saya pada seorang kondektur?

Kesengsem Drama Stage: Anthology 2017


Saya terbiasa bekerja―yang berkaitan dengan menulis―sambil menonton film/drama (terutama Korea). Dulu, ketika saya masih tinggal di kota A, saya selalu mendapatkan pasokan film/drama dari tante saya, karena dia memang selalu banjir kuota.

Suatu malam dia mengirimkan dua film―atau sebutannya Drama Stage―yang kemudian salah satunya akan saya bahas di sini. Film itu berjudul Anthology. Diperankan oleh Shin Eun-Soo sebagai Shin So-Yi dan One sebagai Jin-Hyun (serta satu pemeran lagi sebagai Shin So-Yi dewasa, tapi saya belum tahu siapa namanya).

Menurut saya film ini sangat menggemaskan, ide ceritanya sangat menarik. Film dimulai dengan aktivitas seorang guru perempuan bernama Shin So-Yi dengan para siswanya yang “berantakan”―saya belum menemukan kata yang lebih cocok.

Singkat cerita, guru perempuan tersebut mendapatkan kenangan masa sekolahnya melalui sebuah buku yang dikirimkan bibinya bersamaan dengan bingkisan lain. Buku itu berjudul Anthology, dan di sinilah kisah ini dimulai….

Bentuk Keikhlasan dan Ketulusan


Pada suatu hari saya dan adik sepupu saya, namanya Pram―bukan nama sesungguhnya―membuat janji dengan seseorang, sebut saja namanya Mas Rangga―juga bukan nama sebenarnya. Kami bertiga membuat janji temu di suatu kota untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.



Walau belum pernah bertemu dengannya namun saya sudah cukup sering mendengar nama Mas Rangga. Kami memang berencana akan bekerja sama tentang suatu pekerjaan, tapi selama ini untuk berhubungan dengan Mas Rangga selalu diperantarai oleh Pram. Sehingga saya cukup gugup untuk bertemu langsung, apalagi saya introver. Nah, karena kebetulan Pram dan Mas Rangga merupakan kenalan dekat, jadi saya pikir urusan ini akan lebih mudah.

Pusing Mikirin Anak


Akhir-akhir ini saya semakin pusing. Pusing mikirin anak. Anaknya siapa? Semua anak di dunia ini.

Belakangan saya disadarkan oleh suatu tulisan mengenai ancaman perang dunia ketiga, yang katanya kemungkinan besar pemicunya (lagi-lagi) depopulasi. Lalu saya “pusing” mikirin populasi manusia di bumi ini.
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo