Senin, 13 Agustus 2018

Tidak Punya Siang



Belakangan ini saya menyadari bahwa rasa-rasanya saya tidak punya siang.

Saya tinggal di tempat kerja, bangunan ini sudah menjadi rumah bagi saya. Tapi, karena saya tinggal di sini, saya jadi punya manajemen waktu―apa ya sebutan yang tepat?―yang berbeda. Jam sembilan pagi adalah jam bangun tidur saya (paling lama). Kenapa bisa sesiang itu? Begini, saya tinggal bersama dua teman kerja yang lain, dan pola bangun kita itu ilustrasinya seperti ini:

Lagi Rindu



Sumpah demi apa, ini lagi iseng banget, tulisan ini sebenarnya sudah lama saya rencanakan, tapi baru jadi ditulis sekarang. Itu pun karena tadi ada pemantiknya, sering lupa sih.

Nah, jadi ceritanya ... saya tuh lagi rindu. Eh, tapi bukan rindu yang gimana-gimana loh ya. Saya sedang rindu dengan sebuah pertemanan. Sampai sekarang masih berteman sih, tapi sudah tidak pernah berjumpa lagi, hanya bisa ngobrol via media sosial saja.

Sebenarnya siapa mereka?

Jumat, 10 Agustus 2018

Tulus Berteman



Dua orang perempuan baru saja keluar dari sebuah minimarket. Yang satunya masih bocah. Mereka berjalan bergandengan sambil menikmati es krim masing-masing.

“Tumben kamu traktir aku es krim?” tanya si bocah dengan pandangan curiga.

“Ya, kan daripada kita duduk jongkok mulu, kamu terus-terusan menggambar ayam yang gitu-gitu aja ...,” selorohku.

“Yang-gitu-gitu-aja?” si bocah tampak tak terima.

Kamis, 09 Agustus 2018

Surat yang Tidak Jadi Ditulis


(Tulisan ini dikerjakan dalam rangka mengalihkan perhatian dari mood yang kurang baik. Pekerjaan dikesampingkan dulu, bukannya susah untuk dikerjakan, tapi memang lagi enggak bagus saja perasaan ini, halah … sudahlah.)

Jadi, di awal bulan Agustus ini saya menemukan sebuah lomba menulis yang temanya keren banget! “Untuk Kamu, Jodohku: Walau waktu belum mempertemukan, kuharap surat bisa menyampaikan”. Nah … sudah tahu, kan, penerbit mana yang mengadakan lomba ini? Hehe.

Kamis, 02 Agustus 2018

Introver Itu Spesial



Itu kata seorang kawan. Dan saya begitu terharu mendengarnya, apalagi yang mengatakan itu bukan orang introver. Kalau yang mengatakan itu juga orang yang introver bisa jadi hal itu hanya semacam pembenaran atau pembelaan diri, tapi dia bukan. Di situ saya terharu, ‘kaum kami’ mendapat sebutan atau pemahaman yang begitu indah, hehe.

Saya sangat menghargai para ekstrover yang bisa memahami pihak introver, sungguh. Karena menurut pengalaman saya, memperoleh teman―bagi introver―sebagian besar karena pihak ekstrover yang menemukan, memahami, dan beradaptasi dengan saya.

Saat ini, yang dikatakan ‘orang normal’ adalah manusia-manusia yang ekstrover, sedangkan yang introver dianggap sebuah ‘kelainan sosial’. Kenapa harus begitu terhadap kami?

We’re not anti-social. We’re different social.
―Unknown
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo