Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2020

Mungkin Dia Peri

Sumber: YouTube Li Ziqi

Namanya Li Ziqi (YouTube: Liziqi) dan mungkin dia adalah peri. Saya—dan jutaan orang lain—sungguh terpesona dengan sosoknya. Konten di channel YouTube-nya adalah vlog persiapan makanan dan kehidupan pedesaan.

Total hingga hari ini 8 Juni 2020, ada 108 video di channel-nya dan sudah saya tonton semua. Durasinya singkat dan nyaman (ha?), sekitar 3-20 menit, kebanyakan 3-10 menit, belakangan saja durasinya lebih panjang. Di dua video terakhir masing-masing berdurasi 19.05 dan 17.24.

Kenapa “peri”?

Kamis, 10 Oktober 2019

Kedai Mungil


“Masuk aja dulu, nanti juga tau
betapa menyenangkannya sebuah perkenalan.”
(begitu yang tertulis di pintu masuknya*)

Sebenarnya bukan ini yang saya maksud kedai-kopi-lima-langkah. Sebutan itu untuk kedai kopi yang gedungnya juga milik ibu kos saya. Letaknya tidak jauh, hanya selisih beberapa rumah dari indekos. Jalan kaki ke sana tidak sampai satu menit. Dulu, saya sangat ingin berkunjung ke sana bersama teman sekamar saya. Namun, belum juga terwujud bahkan sampai sekarang teman sekamar saya sudah pindah, tidak tinggal bersama lagi.

Rabu, 09 Oktober 2019

Lagu dan Teman Perjalanan


Waktu tak kan pernah mengulang dan rahasia kan menyapa, tanpa salah.
Di hari yang ditentukan, dilahirkan, ditemukan, dan dipisahkan ....
Syahdunya melodi dan lirik lagu Semesta – Maliq & D’Essentials

Tidak banyak lagu ataupun penyanyi yang saya tahu. Lagu yang saya dengarkan ya itu-itu saja. Dari beberapa lagu itu saya membagi-baginya ke beberapa playlist. Kebetulan saya suka menamai playlist dengan judul yang unik (sebutan halus dari kata ‘aneh’). Misal, ‘naik-naik ke puncak gunung’, judul lainnya sudah lupa karena ... setahun belakangan ini saya sudah mengubah nama playlist yang tadinya berbentuk kalimat jadi sepotong kata saja. Seperti ‘solilokui’, ‘reminisensi’, ‘perjalanan’, yaaa sesederhana itu.

Selasa, 16 Oktober 2018

Apa Pertanyaan Kehidupanmu?



“If we take care of the moments, the years will take care of themselves.” ―Question Diary
(Kalimat sambutan yang menyenangkan.)

Kalau Facebook bertanya “Apa yang Anda pikirkan sekarang?” Maka aplikasi ini bertanya “Apa pertanyaan kehidupanmu?” Tempat di mana kita bisa mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan. Namanya Question Diary atau Diari Pertanyaan.

Sabtu, 07 Juli 2018

Monolog Favorit



Ada banyak hal yang bisa digemari atau dinikmati dalam sebuah film utuh. Salah satunya adalah monolog yang ada di dalamnya. Saya sangat suka mendengarkan dan menyaksikan monolog para tokoh film atau drama, apalagi genrenya melodrama. Biasanya, ‘jenis’ monolog yang saya suka itu adalah yang diucapkan dalam hati, bukan yang ngomong-ngomong sendiri.

Kalimat yang bagus, suasana yang syahdu, peristiwa yang cocok dan menarik, audio yang pas, juga pengambilan gambar yang tepat. Klop, sampai ke hati.

Berikut film atau drama yang di dalamnya terdapat monolog yang menjadi favorit saya. Saya sebutkan berdasarkan abjad:

Rabu, 30 Mei 2018

Cermin Hidup dalam Eulachacha Waikiki



Awal mula kenapa saya bisa nonton drama ini adalah karena tante yang nonton duluan. Dia terpingkal-pingkal sendiri dan saya penasaran. Dia sudah mengingatkan bahwa drama ini komedi yang terkadang ceritanya absurd. Tapi, akhirnya saya terjebak juga dan bertekad menontonnya sampai habis. Sementara tante saya malah berhenti nonton.

Totalnya 20 episode. Menurutku drama ini memang lucu, untuk hiburan, tapi lucunya biasa saja. Karena … terkadang ceritanya enggak masuk akal, jadi lucunya pun enggak secara sukarela. Adakalanya saya malah merasa sebal―karena saking enggak masuk akalnya cerita itu. Kalau sudah seperti itu saya akan berhenti nonton sampai mood saya kembali baik untuk melanjutkan jalan ceritanya.

Yang saya suka dari keseluruhan drama itu adalah setiap konfliknya berjalan tidak begitu lama, sehingga segera ada penyelesaian atau akhir dari konflik itu, tidak bertele-tele yang bisa jadi menyebalkan. Mungkin kamu berpikir, 20 episode tapi konfliknya berakhir dengan cepat, bagaimana bisa? Ya, karena konfliknya bukan hanya satu, tapi bejibun!

Waikiki bisa merupakan refleksi kehidupan kita ini, hidup yang adaaa ... aja masalahnya. Dalam menggapai cita-cita, cinta, impian, selalu ada banyak rintangan―walaupun ada sih orang yang lancar-lancar saja urusannya. Dari seluruh pemeran utama Waikiki saya mendapatkan pelajaran berupa semangat mereka yang tidak pernah luruh walau selama proses menggapai impian itu tidak pernah berjalan mulus. Bahkan saat sudah tercapai pun tetap masih ada saja hambatannya.

Hidup mereka memang benar-benar kacau! Tapi … berdasarkan pengamatan saya, yang hidupnya paling sengsara adalah Lee Joon Ki. Yup, dia. Miris sekali dan saya sering terpingkal-pingkal karenanya. Kamu harus nonton drama ini kalau ingin tahu seberapa tersiksanya hidup Lee Joon Ki dalam menggapai impian dan cintanya.

Saat ini, saya sudah menyelesaikan kesemua episodenya. Ending-nya, semua baik-baik saja dan bahagia. Ada satu makna yang saya petik dari episode akhir drama itu, mereka sudah sama-sama bekerja keras untuk kemudian berhasil menggapai impian, namun bukan berarti semua harus berhenti ‘hanya’ karena cinta. Oh, cinta yang bijak. Masing-masing pihak saling memahami. Betapa indahnya.

Jumat, 18 Mei 2018

Kesederhanaan dalam Little Forest



“Jae Ha benar. Aku mengabaikan yang penting
dan menghindari masalah dengan pura-pura bekerja keras.”
―Hae Won
“Ketika semuanya sulit ... ingatlah aroma tanah, angin, dan matahari di sini.
Lalu Ibu tahu kau bisa membersihkan dirimu dan bangkit lagi.
Anggap saja ini sebagai awal perjalanan panjang untuk kembali ke rumah.”
―Ibu Hae Won
“Untuk Ibu ... sifat, memasak, dan cintanya padaku adalah hutan kecilnya.
Aku juga harus mencari hutan kecilku sendiri.”
―Hae Won

Film dari Negeri Ginseng ini begitu sederhana dan hangat. Di balik ketidakmengertian saya dengan apa yang terjadi pada Hae Won dan ibunya, saya sangat menyukai kesibukan Hae Won di rumah kampung halamannya. Bagaimana dia menanam, menyaksikan benih yang tumbuh, menyiangi ladang, panen, lalu mengolahnya menjadi makanan lezat.

Awalnya saya merasa heran, “Ini film kok kayak video kuliner?” Namun lama-kelamaan saya sangat menikmatinya. Si pemeran utama, Hae Won, selalu menyiapkan persediaan makannya sendiri, terkadang juga disantap bersama sahabat-sahabatnya. Dia selalu bisa menyiapkan persediaan makanan untuk musim berikutnya. Itu yang membuatnya keren.

Namun … ada dua masakan yang sangat mengejutkan saya, dan paling tidak bisa saya tolerir. Dua masakan tersebut melibatkan bunga. Ya, bunga. Saya sangaaat … sangat menghindari makan bunga. Di film ini kita diperlihatkan bagaimana bunga-bunga yang cantik itu diolah, disajikan, dan dimakan dengan nikmat! Wooaaa.

Oke, kita beralih dari urusan bunga-bunga itu. Saya sangat menyukai film ini. Persahabatannya, suasana kampungnya, kebun-kebunnya, masyarakatnya, dan semuanya. Oh, betapa menyenangkan dan gembiranya bertani/berkebun. Masyarakat di desa selalu punya cara untuk menyajikan makanan-makanan segar. Mereka adalah orang-orang yang mandiri, bisa hidup sendiri, dari tanaman-tanaman mereka … dari alam. Oh, sungguh, semesta selalu punya caranya sendiri.

Tontonlah film ini, dan siap-siap ngiler! :p

Minggu, 06 Mei 2018

Dunia Lain dari Semut


“Krek, krek, krrr … plk, plk, plk … ng, ng … ng ….”
―Minuscule Valley of the Lost Ants
(Oh, sungguh, saya tidak tahu harus mengutip apa dari film itu.)

Judulnya Minuscule Valley of the Lost Ants. Ceritanya tentang seekor semut yang terpisah dari rombongannya. Kemudian terjadi peperangan antara semut hitam dan semut merah. Di tengah perjalanan si-semut-hilang ia bersahabat dengan seekor kepik.

Em … errrr … mari saya simpulkan saja. Intinya, film ini menceritakan tentang persahabatan, kerja sama, dan jangan serakah, jangan mengambil yang bukan hak. Ya, begitulah. Saya lupa dari mana mendapat film ini. Awalnya saya hanya melihat sekilas isinya, lalu saya menyimpannya untuk ditonton bareng Adik ketika pulang.

Sesuai rencana, kami menontonnya dan langsung bengong kolaborasi terpingkal-pingkal. Film ini sunyi! Ya, bukan sunyi juga sih, karena tetap ada suaranya kok. Hanya saja … semua tokohnya adalah binatang. Biasa memang, karena kita bisa dengan mudah menjumpai film dengan tokoh binatang, tapi bisa berbicara seperti manusia. Kalau yang ini … mereka benar-benar bersuara sesuai dengan kehidupannya. Semut, kepik, dan serangga lainnya.

Mungkin ini sama fenomenanya dengan film bisu. Eh, tapi ya enggak juga sih, kalau film bisu kan enggak ada dialognya, sedangkan ini tetap ada dialog tapi kita enggak mengerti bahasanya. Itu!

Sepanjang film tidak ada bahasa atau errr … kata manusia. Kami hanya mendengar dengungan-dengungan, yah … suara ‘khas’ para binatang itu. Bagian yang juga membuat kita terpingkal-pingkal adalah pada saat pertempuran antara semut hitam dan semut merah. Memang kesannya tidak masuk akal, saya dan adik lalu membayang-bayangkannya “Memang isinya rumah semut seperti itu ya?” lalu terpingkal-pingkal lagi.

Jadi … faedahnya adalah … ya itu tadi, sesederhana itu, film ini menceritakan persahabatan, kerja sama, dan jangan serakah. Itu!

Durasinya kurang lebih 1 jam 20 menit dan kami bertahan menontonnya hingga akhir. Melelahkan dan sesekali ada rasa bosan. Terlalu sepi.

Seperti yang saya katakana tadi, bukannya tidak ada percakapan, ada, banyak malah. Tapi kita enggak paham bahasanya dan enggak ada subtitle-nya. Ya iyalah! Siapa yang bisa bikinkan subtitle film itu?! (kalau memang berdasarkan bahasa semut)

PS: nontonlah film ini, sangat direkomendasikan!

Rabu, 02 Mei 2018

Gathering Aroma Karsa



“Penciuman adalah jendela pertama
manusia mengenal dunia.
Dunia ini sesungguhnya dunia aroma.”
―Aroma Karsa, Dee Lestari

Hari itu saya bangun kesiangan. Bersiap dan mandi dengan terburu-buru. Perjalanan ke Kota Itu akan menghabiskan waktu berjam-jam, dan saya bertekad untuk tidak terlambat sampai Beruntung, saya memang tidak terlambat. Tiba tepat pada saat registrasi dibuka. Sebagai ‘pelanggan penuh’ yang bergabung di Digital Tribe dan memegang Priority Pass, saya termasuk yang masuk duluan ke ruang acara. Senang iya, bangga iya.

Priority Pass punya saya. Uyeah!

Ketika masuk, otomatis kami duduk berombongan sesama Digital Tribe dan paling depan. Kita langsung heboh. Saling berkenalan dan menanyakan asal daerah. Maklum, biasanya kita hanya bersua di grup Facebook saja.

Nah, ini kami (sebagian kecil) dari Digital Tribe

Begitu acara dimulai … saya tidak bisa menggambarkan perasaan itu. Penulis idola saya ada di hadapan. Dirinya terlihat langsung oleh mata, suaranya terdengar langsung di telinga. Haru dan gugup, membuat hasil video yang saya rekam jadi bergetar-getar. Ketahuilah, bahwa saat itu saya sedang berjuang untuk meredakan sesenggukan, menahan agar air mata tidak berlinang, sambil menggigit-gigit bibir.

Kami (Digital Tribe) juga diberikan kesempatan untuk foto bareng. Saat itu pertama kali saya bersalaman dengan Dee Lestari dan Reza Gunawan (sebagai suami dan produser). Pada saat sesi bincang-bincang, beberapa kali Digital Tribe disebut-sebut untuk menunjukkan diri. Dengan semarak membahana kami berseru dan bertepuk tangan. Di saat-saat seperti itulah saya jadi manusia yang heboh. Dan saya selalu tertawa geli saat mengingat diriku saat itu. Mungkin karena faktor tidak ada satu pun yang mengenaliku plus emosi yang sedang memuncak karena bahagia.

Ya, saya jadi manusia yang heboh, dalam tertawa, berseru, dan tepuk tangan. Namun tetap saja, heboh yang terkontrol. Karena saya tetap tidak ingin menonjol. Saya tetap saya. Tidak ingin terlihat, tidak ingin mengambil perhatian. Maka saya menyesuaikan  seruan-seruan saya dengan yang lainnya.

Sesi tanda tangan, menjadi bagian paling mendebarkan. Saat itu saya kembali berjabat tangan, duduk bersebelahan, dan ‘sedikit’ ngobrol. Ya, sedikit. Kalimat yang sudah saya siapkan menguap begitu saja. Saya seperti orang linglung, enggak tahu mau ngomong apa. Tapi saya tetap bersyukur.

Setelah acara selesai, saya kembali linglung. Hendak ke mana kemudian? Memang sih, saya pasti akan ke Gramedia terdekat karena ada sepupu yang pesan buku. Tapi setelahnya? Saya berdiri lama di depan gedung itu. Sampai akhirnya memutuskan untuk segera ke toko buku saja dulu. Tempat berikutnya bisa dipikir nanti.

Saya tidak menghabiskan banyak waktu di Gramedia karena kepala saya sakit, mungkin karena euforia yang berlebihan tadi. Begitu mendapatkan buku yang saya cari, saya segera membayar dan keluar. Di depan toko buku, saya terduduk lama, bingung, dilema. Masak cuma begini saja? batin saya waktu itu. Maklum, jauh-jauh ke kota itu masak hanya sampai di situ saja jalan-jalan saya? Kok kayaknya kurang ‘sesuatu’? Saya ke sini sendirian, seandainya ada teman, tentunya lebih tenang karena ada yang diajak diskusi.

Saya sempat juga berjalan-jalan sebentar di trotoar, tapi tidak jauh-jauh dari Gramedia―karena menghemat tenaga―sambil terus berpikir. Kemudian saya memutuskan untuk berkunjung ke museum saja karena memang di kota ini jumlah museum sampai belasan. Saya hanya bisa mengunjungi tiga musem saja. Oleh ibu-ibu GO-JEK bahkan ditanya, “Mbaknya lagi tour museum, ya? Tapi kok sendiri?”

Oh ya, ibu itu juga mengajak ngobrol banyak di perjalanan. Dan pertanyaan paling mencengangkan adalah “Bagaimana sih caranya biar bisa punya bakat kayak Mbak, gitu? Kok orang-orang itu bisa pintar?”

“A … ah …, hah?” Terbata-bata dan linglung saya meresponsnya. Sampai di situ saja, percakapan berikutnya sangat panjang. Saya tidak sanggup mengetikkannya.

Nah, saya membatasi sampai tiga museum saja. Karena pertama, saya belum makan nasi sejak pagi. Kedua, hari sudah sore, kalau dihitung-hitung waktu perjalanan pulang, saya akan tiba malam hari. Jadi ya pulang saja.

Well … seperti itulah perjalanan saya di Kota Itu. Sebenarnya sudah yang ketiga kali saya ke sana. Tapi ini baru pertama kali saya pergi sendiri. Awesome!

PS: sayang banget nggak foto bareng Bapak Produser, hehehe.

Bareng Ibu Suri :)
 
EDITOR :)

Sambutan dari Digitribe

Kamis, 12 April 2018

Menjadi Manusia Karena “Life of Pi”



“Orang bisa terbiasa dengan apa pun―termasuk membunuh.”
―Pi Patel dalam Life of Pi

Novel ini saya dapatkan secara tak sengaja, pada sebuah toko buku, terselip di pinggiran rak, hanya satu, sudah terlepas dari plastik pembungkusnya. Jika buku lain banyak yang dipajang dalam posisi menghadap ke depan, novel “sebatang kara” ini posisinya menyamping dengan bagian punggung di sisi dalam rak (bukan sisi luar). Karena penasaran apa judulnya, saya menarik sedikit buku itu hingga keluar setengahnya dari rak. Dan di sana tertera… “Life of Pi”. Dalam gerakan tergesa-gesa saya menarik seutuhnya buku itu keluar dari rak, beralih ke pelukan saya dan tak saya lepas-lepas lagi. Tak perlu banyak pertimbangan untuk memutuskan membeli buku ini, saya tahu ini novel bagus.

Minggu, 08 April 2018

V60 Itu Anggun


Minum kopi itu asyiknya manual brew, lebih spesifik lagi… V60. Sejak awal tahu manual brew, saya dikenalkan teknik seduh yang anggun itu. Dan jadilah saya selalu memesan teknik seduh itu setiap kali ngopi.

Senin, 02 April 2018

Rectoverso: Hanya Isyarat



“Aku justru orang yang paling bersedih. Karena aku tahu…
apa yang nggak bakal pernah bisa aku miliki.”
―Hanya Isyarat, Rectoverso.

Belakangan ini saya ingat Rectoverso. Buku karangan Dee Lestari yang lima cerita di dalamnya diadaptasikan menjadi sebuah film omnibus. Dari lima cerita yang difilmkan itu, saya sangat menyukai yang berjudul Hanya Isyarat. Syahduuu banget.

Jumat, 16 Maret 2018

Keseruan Digital Tribe Aroma Karsa


Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya jadi download Facebook lagi demi bisa bergabung di grup digital tribe Aroma Karsa versi cerbung. Saya senang bisa menjadi bagian di dalamnya, merasakan sensasi membaca cerbung dan bertemu teman-teman yang asyik. Walau sebenarnya saya punya beberapa kekecewaan terhadap sistem versi cerbung ini, tapi… saya tidak akan membahasnya. Karena judul di atas adalah “keseruan” jadi mari kita bincangkan seru-serunya saja.

Senin, 12 Maret 2018

Saya dan Novel-Novel Fredy S


Beberapa jam yang lalu saya baru saja membaca sebuah tulisan di blog langganan saya. Yang kebetulan Dia sedang membahas novel-novel Fredy S. Awalnya, ketika baru membaca judulnya dan ada nama itu di sana, saya langsung mengernyit, rasa-rasanya… saya tahu dia, pikir saya. Semakin saya tenggelam dalam tulisan itu semakin saya yakin bahwa memang benar Fredy S yang “itu”. Bekas-berkas kenangan masa sekolah lalu bermunculan dengan cepat saling berkejaran di kepala saya.

Kalau kamu, akrab juga dengan novel-novelnya? Familier dengan nama Fredy S?

Rabu, 07 Maret 2018

Kesengsem Drama Stage: Anthology 2017


Saya terbiasa bekerja―yang berkaitan dengan menulis―sambil menonton film/drama (terutama Korea). Dulu, ketika saya masih tinggal di kota A, saya selalu mendapatkan pasokan film/drama dari tante saya, karena dia memang selalu banjir kuota.

Suatu malam dia mengirimkan dua film―atau sebutannya Drama Stage―yang kemudian salah satunya akan saya bahas di sini. Film itu berjudul Anthology. Diperankan oleh Shin Eun-Soo sebagai Shin So-Yi dan One sebagai Jin-Hyun (serta satu pemeran lagi sebagai Shin So-Yi dewasa, tapi saya belum tahu siapa namanya).

Menurut saya film ini sangat menggemaskan, ide ceritanya sangat menarik. Film dimulai dengan aktivitas seorang guru perempuan bernama Shin So-Yi dengan para siswanya yang “berantakan”―saya belum menemukan kata yang lebih cocok.

Singkat cerita, guru perempuan tersebut mendapatkan kenangan masa sekolahnya melalui sebuah buku yang dikirimkan bibinya bersamaan dengan bingkisan lain. Buku itu berjudul Anthology, dan di sinilah kisah ini dimulai….
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo