Tampilkan postingan dengan label Dear Nano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dear Nano. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2020

Namanya Lusi


Namanya Lusi

Waktu itu, saya sedang berkuliah di Kendari (lupa tahun berapa). Pada suatu libur semester, saya pulang ke rumah orang tua. Saat itulah Adik memberikan sebuah boneka mungil ke saya. Tentu saya heran, Adik punya boneka, dari mana? Katanya, boneka itu dia temukan di suatu tempat*.

Saya geleng-geleng kepala. Oke, boneka temuan itu jadi milik saya lalu saya bawa ke Kendari. Awalnya semua baik-baik saja. Boneka mungil itu bertempat di kasur dan sering kali terabaikan eksistensinya karena ukurannya yang terlalu kecil. Sampai kemudian di suatu malam, saya sedang sendirian di kamar indekos, dikejutkan dengan bunyi aneh yang datang dari arah boneka itu. Bayangkan, malam hari sendirian di sebuah kamar yang tenang, sebuah suara aneh tiba-tiba mengejutkanmu!

Jumat, 26 Juli 2019

Sebuah Awal Persahabatan


“Saya sama sekali tidak menduga persahabatan
yang saya jalani bermula seperti ini.”
– Eby Tabita.

Namanya Aisyah, siapa yang enggak kenal dia!? Banyak, sih. Kami kuliah di fakultas yang sama, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo. Hanya saja berbeda jurusan, dia Ilmu Administrasi, saya Ilmu Komunikasi. Ruang kuliah dia di lantai dasar, saya di lantai atas. Sejak awal perkuliahan―setahu saya―kita sudah saling tahu satu sama lain, hanya memang tidak pernah berkenalan resmi, hanya saling sapa seadanya saja jika bersisian di fakultas, itu pun karena kita punya teman yang sama (temannya juga temanku).

Jumat, 30 November 2018

Kasih Putih


Kedengarannya memang konyol kalau jatuh cinta via medsos. Kamu jatuh cinta pada seseorang pemilik akun A, kamu follow dia, nge-like semua post-nya, nontonin story dan live-nya. Tapi dia enggak melakukan semua hal itu balik ke kamu. Dia ada di utara, kamu di timur. Enggak nyambung dan enggak masuk akal bangetlah menurut banyak orang. Dan ya ... memang itu konyol.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Malam Sakit Kepala, Pagi Ceria



“Salah satu hadiah ternikmat dari Tuhan adalah malamnya sakit kepala,
esok paginya ceria.” ―Eby Tabita

Oh, sungguh, itu nikmat sekali. Ketika pada malam hari kepala rasanya mau pecah. Nyut-nyutan enggak karuan―apalagi kalau ada tambahan masalah. Yang saya butuh di saat itu hanyalah ... tidur―yang berkualitas.

Kamis, 16 Agustus 2018

Bagaimana Kalau Orang yang Memojokkanku (Ayam Goreng)?



Sebenarnya saya tidak tahu lelaki itu sebagai apa di sana, di sebuah tempat makan pinggir jalan, menyediakan menu ayam dan bebek. Saya datang bersama keluarga, ada yang pesan ayam ada yang bebek, saya memilih ayam. Awalnya, lelaki lain yang melayani kami, sampai kemudian datanglah dia. Saya begitu terpana. *ngetik sambil malu-malu

Senin, 13 Agustus 2018

Tidak Punya Siang



Belakangan ini saya menyadari bahwa rasa-rasanya saya tidak punya siang.

Saya tinggal di tempat kerja, bangunan ini sudah menjadi rumah bagi saya. Tapi, karena saya tinggal di sini, saya jadi punya manajemen waktu―apa ya sebutan yang tepat?―yang berbeda. Jam sembilan pagi adalah jam bangun tidur saya (paling lama). Kenapa bisa sesiang itu? Begini, saya tinggal bersama dua teman kerja yang lain, dan pola bangun kita itu ilustrasinya seperti ini:

Lagi Rindu



Sumpah demi apa, ini lagi iseng banget, tulisan ini sebenarnya sudah lama saya rencanakan, tapi baru jadi ditulis sekarang. Itu pun karena tadi ada pemantiknya, sering lupa sih.

Nah, jadi ceritanya ... saya tuh lagi rindu. Eh, tapi bukan rindu yang gimana-gimana loh ya. Saya sedang rindu dengan sebuah pertemanan. Sampai sekarang masih berteman sih, tapi sudah tidak pernah berjumpa lagi, hanya bisa ngobrol via media sosial saja.

Sebenarnya siapa mereka?

Kamis, 09 Agustus 2018

Surat yang Tidak Jadi Ditulis


(Tulisan ini dikerjakan dalam rangka mengalihkan perhatian dari mood yang kurang baik. Pekerjaan dikesampingkan dulu, bukannya susah untuk dikerjakan, tapi memang lagi enggak bagus saja perasaan ini, halah … sudahlah.)

Jadi, di awal bulan Agustus ini saya menemukan sebuah lomba menulis yang temanya keren banget! “Untuk Kamu, Jodohku: Walau waktu belum mempertemukan, kuharap surat bisa menyampaikan”. Nah … sudah tahu, kan, penerbit mana yang mengadakan lomba ini? Hehe.

Selasa, 17 Juli 2018

Gelak Tawa Tengah Malam


Di lingkungan rumah nenek saya ada orang yang sering tertawa tengah malam. Dia memang tidak waras. Sebenarnya bukan hanya saat larut malam, sewaktu-waktu dia bisa tergelak sendirian. Di siang hari tawanya tak terhiraukan, kalah dengan segala deru kendaraan dan kesibukan masyarakat. Namun saat malam hari, suara tawanya bisa terdengar sempurna.

Bahagia Itu Sederhana. Tidak Tahu Cara Isi Token Listrik, Misalnya.

Ya. Selamat terbahak-bahak.

Selasa, 10 Juli 2018

Kembali ke Kendari



Bulan Juni lalu saya kembali ke Kendari. Kota kecil itu masih ‘sama saja’. Dan saya senang masih berkesempatan berada di sana lagi.

Banyak yang saya rindukan tentang Kendari. Saya rindu semua hal tentangnya. Rindu suasana kotanya, rindu dialek orang berbicara, rindu kawan-kawan, rindu kampus, rindu kosan, … rindu kehidupan saya di masa lalu.

Kamis, 28 Juni 2018

Cerita-Cerita Usang


akan ada suatu saat nanti,
ketika aku memberimu satu kotak besar penuh surat,
cobalah untuk tidak heran.
bacalah pelan-pelan,
lalu mari saling bercerita.

saat kau coba buka surat pertama,
lalu menemukan air mataku berceceran,
jangan heran.
saat kau lanjut buka yang kedua,
dan kau temukan caci makiku bertebaran,
jangan heran.

jika kau buka yang ketiga,
di sana kau berjumpa puisi-puisi cintaku,
jangan heran.
jika kau raih amplop keempat,
yang terdapat banyak tawa belepotan,
jangan heran.

berikutnya kau buka surat kelima,
kau akan menemukan timbunan kekecewaanku,
jangan heran.
berikutnya kau mulai tertarik dengan yang keenam,
kau mendapati segala rupa rahasia diri dan hidupku,
jangan heran.

di surat ketujuh,
hanya ada namamu yang kusebutkan berulang-ulang
hingga halaman penuh sesak,
jangan heran.
di surat kedelapan,
kau membaca ada teriakan, bisikan, desahan napas, decakan lidah, nyanyian sumbang,
siulan tak sempurna, dan cerita-cerita tidak penting … jadi satu,
jangan heran.

kau terus membuka yang berikutnya,
lagi …
lagi …
lagi …

lalu, saat kau bertemu pada surat terakhirku,
semoga isinya adalah kebahagiaanku menemukanmu.
dan sebagai penutup, aku ingin mengatakan sesuatu:
selamat berjumpa dengan cerita-cerita usangku,
aku bahagia jika kau sudi membalas suratku.

*untukmu kekasihku

Jumat, 18 Mei 2018

Surat: Pengakuan, Klarifikasi, Penolakan



“Wah ... kayaknya yang ini privasi banget deh.” Tante melipat kembali kertas yang dipegangnya.

Saya yang sedang melihat-lihat gambar buatan almarhum Om, langsung menoleh. “Apa?”

“Suratnya ibumu, hahaha.”

“Mana, mana!” Kertas itu berpindah ke tanganku. Di selembar kertas usang itu tersebar tulisan yang acak-acakan.

“Hahahaha …” saya terpingkal-pingkal.

“Yang ini dari pihak si cowok. Wahahaha ….” Rupanya Tante mendapat surat lain. “Itu isinya apa?” tanyanya.

“Yang itu dulu, isinya apa?”

“Jadi, laki-laki ini klarifikasi bahwa gosip tentang dirinya yang mau menikah dengan perumpuan dari A itu nggak bener. Dia berharap ibumu nggak percaya dengan berita itu. Dia seriusnya sama ibumu. Hahahaha.”

“Hahahaha …. Kalau yang ini, penyampaiannya panjang lebar sih, tapi intinya adalah … penolakan.”

“Hahahaha …”

“Jadi begini ya caranya menolak cowok, hahahaha. Ribet banget, hahahaha. Harus muter-muter dulu ngomongnya.”

“Hahaha ….”

Kegiatan memilah-milah barang lama di rumah nenek ini jadi semarak, seiring adanya penemuan-penemuan barang-antik-nan-fenomenal milik tante-tante, om, dan ibu saya.

Perihal surat-surat antara ibu saya dan lelaki itu, kami bukannya mentertawakan perasaan-perasaan mereka, bukannya tidak menghargai atau meremehkan. Hanya saja, kami yang hidup di era milenial ini sangat merasa lucu dan takjub dengan kisah cinta puluhan tahun yang lalu. Surat dan segala prosesnya. Masing-masing pihak sama-sama sopan dan saling menghargai. Walaupun menolak atau ditolak, tapi semua tetap berjalan lembut dan hangat.


NB: setelah dua orang teman yang lalu, apakah ada lagi yang minat berkirim surat dengan saya?

Jumat, 11 Mei 2018

Cium Lutut dalam Rangka Rindu Adik


Saya tuh rindu ….

Rindu eyelannya adik ….

Rindu suara gergajinya, suara palunya, suara ketika ia berkata “Ngoten? Ngoten to … ngoten?[1]” Tentu itu adalah ejekan.

Selalu ada rahasia-rahasia di antara kami. Misalnya saja, saya merahasiakan tanggal kepulanganku dan dia merahasiakan hal-hal baru yang ada di rumah. Saya merahasiakan oleh-oleh untuk dirinya dan dia merahasiakan ornamen baru―buatannya―di kamarku.

Kami adalah orang-orang yang enggak bisa dibuat penasaran, tapi kami saling melakukannya, saling menyiksa. Biasanya kami akan saling meminta clue dan menebak-nebak. Tapi tetap tak terpecahkan, kita saling mengecoh.

….

Saya adalah orang paling cerewet tentang dia yang harus rutin mencium lututnya. Kalau kami sedang duduk-duduk lalu saya ingat hari itu dia belum mencium lututnya, maka saya akan mengingatkannya. Hal itu adalah ritual penting yang saya wajibkan untuk dilakukan olehnya.

“Cium lutut dulu.”

Lalu dia tinggal memberdirikan kakinya yang tertekuk, mencium lututnya dengan efek bunyi “Muaaach!” penuh penekanan dan begitu menghayati.

Kalau sudah begitu, saya akan menoyor kepalanya. “Yang bener!” sambil terpingkal-pingkal. Dia tahu, bukan ‘mencium lutut’ seperti itu yang saya maksud. Tapi terkadang dia memang jahil plus sepertinya sudah bosan dengan suruhanku yang satu itu.

Mencium lutut: gerakan duduk sambil meluruskan kedua kaki rapat ke depan, lalu membungkukkan badan hingga kepala menyentuh lutut. Apa ya namanya dalam olahraga? Saya tidak tahu istilahnya―dan tidak mencari tahu―untuk itu, biar mudah maka saya menyebut gerakan itu ‘mencium lutut’.

Seperti percakapan via telepon terakhir:

“Sudah cium lutut?”

“Em …” jeda dua detik, saya sudah tahu arti di baliknya. “E … sudah,” jawabnya lirih.

“Ayo cepat! Sekarang.”

“Iya-iya … sebentar.”

“Ya sekarang.” Hening. “Halo … halo,” panggilku.

Dua detik kemudian, “Nah … sudah.”

“Kamu dari mana, sih?” saya sewot.

“Katanya suruh cium lutut …,” ujarnya sebal.

“Oh ….”

Entah kenapa, menurutku orang yang bisa ‘mencium lutut’ itu keren. Pasalnya dulu ketika jaman sekolah dan pelajaran olahraga, saya tidak bisa melakukan gerakan itu. Hanya sedikit teman-teman yang bisa melakukannya dengan sempurna.

Untuk itu, sejak beberapa tahun yang lalu, ketika saya sadar adik saya bisa melakukannya dengan mudah―pasti karena tulangnya masih lentur―maka saya gencar menyuruhnya berlatih. “Biar tetap bisa, gak sakit,” ujar saya.

Pernah beberapa bulan berlalu tanpa saya mengingatkannya dan dia sama sekali tidak melakukannya. Karena … dia itu kalau enggak disuruh enggak akan gerak! Jadi saya mengingatkannya lagi.

“Sudah?”

“Iya, sudah,” jawabnya di seberang sana.

“Sakit gak?”

“Hehe … iya, sakit,” terdengar kekehannya.

“Nah, kan!” saya gemas. Kalau gerakan itu tidak latih, lama-kelamaan akan sakit di punggung saat mencobanya lagi, dan bisa jadi malah tidak bisa lagi melakukannya sama sekali.


Selain itu, saya juga rindu dialog-dialog absurd dengannya. Misalnya tentang pesan singkat di suatu malam:

“Mbak, sekarang kamu sibuk apa?”

“Kenapa?” Saya balas bertanya karena jawaban pertanyaan itu ‘tergantung’. Tergantung dia mau ada apa? Bisa jadi saya sibuk dan tidak sibuk.

“Jawab saja.”

“Gak ada apa-apa.”

“Ooh, ya udah besok aku mau ngomong. Ok.”

Lah, kenapa gak sekarang aja? Kalau gitu ngapain nanya? Pesan itu tidak saya balas.

Satu jam kemudian ada pesan baru. “Semoga kamu bisa.”

“Apa? Beli online?” Dugaan saya itu. Karena belakangan dia heboh mau beli drone secara online.

“Besok aja.”

Tidak saya balas lagi. Dia memang suka aneh. Abaikan saja.

….
….

Jadi, sudahkah kamu mencium lututmu hari ini?



[1] Begitu? Begitu ya … begitu? (dalam bahasa Jawa halus)
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo