Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2020

Tentang Menekuk Lutut dan Lainnya

“Ayo. Bisa.”
Kita hanya butuh kata-kata tepat, bukan kutipan bijak,
bukan kalimat dari motivator hebat.
—Eby Tabita

 

Ini kisah yang panjang—walau sudah banyak cerita di-skip. Silakan tarik napas dulu.

...

Di sebuah malam Jumat Kliwon (Kamis malam), saya dan Pe (baca: Pi) berkendara dengan sepeda motor pinjaman seperti biasa. Malam itu, elpiji di indekos habis, jadi kami pergi membelinya. Sekalian ke rumah temannya Pe, lalu “mampir” beli kebab.

Perjalanan lancar seperti biasa. Di perjalanan pulang, sampailah kami di area roller coaster—sebutan kami untuk jalan itu. Seperti wahana roller coaster, medan jalan itu naik turun. Kami hampir selalu berseru-seru sambil mengebut kalau lewat di sana, seolah-olah sedang menikmati roller coaster benaran.

Kondisi jalan di sana cukup gelap, hanya ada lampu remang-remang dari beberapa bangunan di sekitarnya. Sepi juga, tidak banyak kendaraan yang lewat karena memang bukan jalan raya. Hanya jalan kecil yang muat maksimal dua mobil bersisian. Lokasinya dekat dengan indekos.

Malam itu, Pe mengendarai motor seperti biasa saat melewati area roller coaster. Namun, siapa sangka, terjadilah insiden nahas itu. Kami tidak ada yang bisa melihat serakan pasir di tengah jalan—yang terbawa air hujan sore harinya—karena jalan itu cukup gelap. Ban motor tergelincir. Kami terjatuh dengan hebat. Kecelakaan tunggal.

Sabtu, 24 November 2018

Kerja dengan Cinta



“ ... Kalau kita bekerja keras setiap hari, dan kita mencintai yang kita lakukan,
kita akan jauh dari kelelahan, karena bekerja dengan pikiran senang.
Yang membuat lelah bukan kerja, tapi stres ....”
(Potongan rangkaian tweet oleh @noffret. Tahu siapa dia? :p)

Jadi, beberapa hari yang lalu saya (akhirnya) punya waktu untuk menyendiri. Diawali dengan jadwal bertemu dengan salah seorang kawan, di akhir pertemuan kami ke minimarket. Yang punya perlu itu saya, belanja aneka snack dan air mineral tentunya. Lalu kawan saya―yang juga penulis itu―berceletuk, “Ah, pasti buat teman baca buku atau nulis.” Dan saya mengiakan. Tujuan saya memang itu.

Sabtu, 27 Oktober 2018

Ritual Sebelum Tidur



Sejak mengenal self-healing, saya jadi paham bahwa saya juga (sangat) perlu untuk menyembuhkan diri. Banyak. Banyak hal.

Yang sedang saya ‘kerjakan’ sekarang adalah semua hal tentang tidur. Aktivitas yang menyenangkan ini begitu dinanti-nantikan, bukan? Suatu kegiatan yang—seharusnya—bisa merilekskan, memulihkan energi, menyegarkan kembali tubuh kita, dan sebagainya. Namun, apa jadinya kalau tidur justru jadi aktivitas yang memberatkan?

Selasa, 23 Oktober 2018

Boleh Berteman?



Oh, yeah .... Saya tidak akan pernah menanyakan hal itu (lagi) pada orang―asing.

Minggu, 14 Oktober 2018

Jadi Manusia Itu Gak Gampang



Iya, gak? Apalagi kalau sudah dewasa dan hidup sendiri. Nanti siang mau makan apa? Malam makan apa? Besok, lusa, makan apa? Sabun habis, kuota menipis, piring gelas belum dicuci. Harus hemat, minggu ini jangan beli es krim dulu, beli sate ayam boleh sekali. Pakaian kotor menumpuk, besok harus ketemu sama orang banyak, jam tidur harus dipangkas lagi, kerjaan banyak yang urgen―sebut apa pun, sampai besok saya enggak akan selesai menyebutkannya.

Kamis, 11 Oktober 2018

Mengenali, Menerima, dan Mencintai Diri Sendiri



Kesehatan mental sangat berpengaruh pada banyak hal di hidup kita, mulai dari tubuh sampai pada perilaku dan sikap kita dalam menghadapi sesuatu. Saya belum lama mengetahui tentang istilah self-healing dan saya sangat tertarik. Karena saya sadar, ada beberapa hal yang juga perlu disembuhkan dari diri saya.

Menghadiri pelatihan self-healing sepertinya agak sulit untuk saya lakukan, karena kota tempat pelaksanaannya tidak pernah cocok dengan lokasi saya sekarang. Lalu, saya memilih untuk tetap melakukan penyembuhan sendiri. Saya mengikuti teknik-teknik yang disampaikan oleh Reza Gunawan (tahu siapa dia? Ya, suaminya Mamak Suri!), ada teknik napas 4-7-8 untuk menenangkan, teknik KRAI untuk mengelola emosi, dan teknik pawang monyet.

Selasa, 02 Oktober 2018

Akun yang Menyenangkan di Instagram (2)



Baca sebelumya di sini.

Akun fotografi/art:
@hobopeeba ini nama akun yang paling susah saya ingat (padahal namanya gampang, ya!). Saya sering kali membatin menyebutkan namanya jadi hopopobea (kedengarannya malah lebih ribet, ya? Hahaha). Isinya ... woaaa hasil-hasil bidikan yang sangat mengagumkan, temanya memang warna-warni ya, full colour. Saya selalu takjub setiap melihat unggahan terbarunya. Keren.

Akun yang Menyenangkan di Instagram (1)



Satu-satunya media sosial yang saya begitu aktif ada di sana adalah Instagram. Sudah sreg sama media yang satu ini. Ya ... terlepas dari segala macam pembaruan yang masih terus dilakukan, saya tetap menyukainya―walau lebih memilih tipe Instagram yang dulu.

Fitur-fiturnya rame banget, memang. Namun, tidak semuanya saya pakai, yang sesuai kebutuhan saja. Yang bikin saya betah salah satunya adalah karena adanya akun-akun yang menarik. Berikut ini saya akan jelaskan beberapa di antaranya:

Kamis, 06 September 2018

Nasihat Seseorang untuk Orang Lain



Lalu, saya anggap itu sebuah nasihat untuk diri saya juga. Jadi, mari kita setujui saja.

Tidak apa-apa bajumu itu-itu saja. Tidak apa-apa belum bisa beli celana. Tidak apa-apa orang bosan melihat penampilanmu. Tidak apa-apa merasa bosan dengan penampilan diri sendiri.

Itu sungguh tidak apa-apa.

Selasa, 04 September 2018

JEBRES



Ada hal-hal sederhana yang entah kenapa sangat menyenangkan untuk diri kita. Padahal, bagi orang lain hal itu sangatlah biasa atau bahkan malah tidak terpikirkan sama sekali.

Kalau menurut Metode KonMari, benda tertentu yang jika disimpan atau dipakai bisa mendatangkan rasa bahagia dan hanya kita sendiri yang bisa merasakannya, itu dinamakan Sparks Joy. Nah, ini juga sama, tapi tentang sesuatu yang diucapkan atau didengar―walau saya tidak tahu nama istilahnya.

Kamis, 30 Agustus 2018

Mau Bersyukur (Lagi)



Terima kasih Tuhan, telapak tanganku ada garis-garisnya, kakiku masih bisa melangkah, suaraku masih sama, bulu mata masih normal, masih bisa tengok kiri-kanan, dan mencium aroma makanan.

Terima kasih Tuhan, aku masih menghirup udara bersih, bisa membedakan hitam dan kuning, kukuku tidak berhenti tumbuh, tidak pernah mimisan, dan aku masih punya pulsa.

Minggu, 26 Agustus 2018

Seandainya Ada Adik ...



Hal ini sudah lama mengusik saya. Tadinya hanya sekadar terpikir sambal lalu, tetapi seiring berjalannya waktu sampai hari ini, hal itu terus terpikirkan dan semakin kepikiran.

Ada berbagai kejadian atau hal yang seharusnya dilakukan di tempat kerja―yang selalu berkaitan dengan Adik. Beberapa hari yang lalu ada suatu hal yang harus dikerjakan atau dibuat, tetapi karena tidak ada yang ‘mampu’ akhirnya kita kalang kabut mencari solusi agar hal itu bisa terselesaikan/terwujudkan. Terkadang, bahkan ada hal-hal yang terpaksa tidak jadi dilakukan, hanya diucapkan semata.

Senin, 20 Agustus 2018

Mau Menakali Apa?



Belakangan ini ada satu topik pembicaran dengan Adek yang membuat saya terus memikirkannya. Saya memang pemantik percakapan paling aktif kalau sedang berbincang dengannya via telepon. Menanyakan apa ada yang sakit di badannya? Adakah masalah dengan sekolah atau kawannya? Apakah sering dimarahi Bapak-Ibu? Sudahkah cium lutut hari ini?

Pertanyaan yang cukup sering saya ajukan juga adalah ‘kamu nakal nggak?’ Dan yang terakhir ini dia menjawab pertanyaan saya berbeda dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Entah, apakah dia bosan dengan pertanyaan itu atau dia baru menemukan kesadaran/jawaban yang lebih tepat.

Jumat, 17 Agustus 2018

Mengenal Introver (2)



Baca Mengenal Introver (1) di sini.

Ya, kembali lagi ke urusan introver. Untuk saya, semakin bertambah usia semakin ada perubahan yang lebih baik. Introver terparah saya terjadi ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan saya bersyukur bisa sedikit demi sedikit berubah. Bukannya tidak menerima kondisi diri saya, saya senang mengalami perubahan ini karena dulu itu saya tersiksa sekali. Pada saat itu, saya adalah korban bully, yang lebih mengarah ke pelecehan, tetapi saya tidak berani melaporkannya. Saya sangaaat sangat pendiam, dan sama sekali tidak berani melawan, juga tidak punya banyak teman.

Kamis, 16 Agustus 2018

Tentang Mata Minus



Belakangan ini di tempat kerja lagi sering membahas mata minus, dan rasa-rasanya saya yang paling jarang turut sumbang suara.

Sebenarnya bagaimana keadaan mata saya? Ya, saya juga minus, sudah lama, sudah periksa juga. Entah berapa kali, lupa, sejak SMA pokoknya. Sampai bosan rasanya cek mata, dari mulai ukuran minus rendah (di bawah 1) sampai yang terakhir sudah lebih dari 1. Tepatnya saya lupa, mata kiri dan kanan memang berbeda ukuran minusnya (sama seperti ibu saya). Intinya, yang satu 0.75 yang satu sudah 1.25, itu hasil tes terakhir. Seandainya sekarang ini saya cek lagi, hm ... kira-kira minus berapa, ya?

Selasa, 14 Agustus 2018

Ternyata Saya Perlu Menikah



Urusan menikah itu memang ribet, benar?

Sering kali saya merasa ragu. Kalau dipikir-pikir, hidup sendiri saja bentuknya begini, bagaimana mau memasukkan satu orang lagi ke hidup saya―selamanya? Bagaimana saya bisa percaya dia? Apakah dengan hidup bersamanya hari-hari saya jadi lebih nyaman atau justru malah lebih repot?*

Kamis, 02 Agustus 2018

Introver Itu Spesial



Itu kata seorang kawan. Dan saya begitu terharu mendengarnya, apalagi yang mengatakan itu bukan orang introver. Kalau yang mengatakan itu juga orang yang introver bisa jadi hal itu hanya semacam pembenaran atau pembelaan diri, tapi dia bukan. Di situ saya terharu, ‘kaum kami’ mendapat sebutan atau pemahaman yang begitu indah, hehe.

Saya sangat menghargai para ekstrover yang bisa memahami pihak introver, sungguh. Karena menurut pengalaman saya, memperoleh teman―bagi introver―sebagian besar karena pihak ekstrover yang menemukan, memahami, dan beradaptasi dengan saya.

Saat ini, yang dikatakan ‘orang normal’ adalah manusia-manusia yang ekstrover, sedangkan yang introver dianggap sebuah ‘kelainan sosial’. Kenapa harus begitu terhadap kami?

We’re not anti-social. We’re different social.
―Unknown

Selasa, 31 Juli 2018

#s_surat



“Ketika banyak yang menabur kerikil di jalanku,
Aku tidak mempermasalahkannya.
Aku hanya berharap, saat aku tersandung, ada kamu yang menahan tubuhku.
Tak masalah ketika aku tak bisa berenang dan nyaris tenggelam.
Aku harap ada kamu yang sesekali membawaku naik ke permukaan.”
28.02.17 (Ada Kamu)

Kamis, 19 Juli 2018

Mengenal Introver (1)


Introver apaan? Itu dia bisa ketawa ngakak, itu tingkahnya konyol, itu dia cerewet, itu dia bisa jahili orang.

Ya. Memang bisa. Tapi lihat dulu, siapa yang dihadapi? Untuk introver―dalam hal ini saya, untuk tidak menyebut keseluruhan―memang terkadang terlihat seperti orang pada umumnya atau ekstrover. Tapi tidak setiap waktu seperti itu, tergantung siapa yang saya hadapi.

M A U



“Sederhana yang rumit; bertemu dengan orang yang membuatku mau.”
―Eby Tabita, 2018

Belakangan ini saya dan Tante kembali membincangkan tentang mau. Hanya tiga huruf, semua orang tahu maknanya, sederhana. Sebenarnya apa konteks ‘mau’ yang kita maksud?
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo