Selasa, 08 Mei 2018

Nyaris Keracunan


Saya menutup pintu kamar setelah melepas kepulangan seorang teman yang berkunjung ke kosan. Teringat sebotol soda yang masih cukup dingin sehingga masih segar diminum. Dengan santai saya mengambil gelas yang sudah ada di meja dapur―bukan di rak piring. Terlihat ada sedikit air di dalamnya, dengan segera saya tumpahkan saja air itu lalu gelasnya saya bawa mendekat ke meja tempat laptop berada.

Minum soda sambil nonton drama Korea, asyik sekali, pikir saya. Laptop sudah menyala, video sudah diputar―entah judul dramanya apa, saya lupa―soda dalam botol lalu saya tuang ke gelas tadi. Sekelebat saya merasa aneh, kok soda yang tertuang di gelas warnanya jadi lebih terang dari yang ada di botol? Tapi tak saya hiraukan.

Kemudian saya fokus sejenak pada alur cerita drama tersebut, sampai kemudian saya mencium aroma yang aneh. Kok harum? Perasaan nggak semprot parfum atau wewangian lainnya. Saya mengendus sebentar ke sekitar badan. Nggak ada. Saya tak memedulikan lagi. Dengan segera saya meraih gelas berisi soda yang sedari tadi masih saya biarkan diam di tempatnya. Kuteguk dengan sangat nikmat.

Lalu … bencana dimulai!

Tergopoh dan dengan serampangan saya membuka pintu kamar lalu berlari keluar. Huek! Saya memuntahkan sisa soda yang belum tertelan. Kepala saya sempat blank, segalanya jadi susah saya pahami. Detik berikutnya rangkaian kejadian terputar dalam otak saya.

Siang tadi saya belanja dengan Aira, dia beli sabun cair cuci baju untuk penghilang noda alias pemutih pakaian, sebut saja sabun X. Memintanya sedikit untuk mencuci baju saya yang kebetulan ada nodanya. Saya menuangkan sabun X tersebut ke dalam salah satu gelas di rak yang memang biasanya dipakai untuk minum. Aira mengingatkan saya untuk jangan menyimpan gelas berisi sabun itu di atas meja, jangan sampai saya teledor.

Namun saya abai dan menyepelekannya. Gelas itu berada di sana hingga malam yang kelam ini terjadi. Cairan sabun itu memang bening, seperti air putih biasa, hanya saja sedikit kental. Tadi saya sempat menumpahkan isinya untuk saya tuangkan soda. Namun, karena kental, tentu saja masih ada yang tersisa di dalam gelas.

Lalu … perubahan warna pada soda tadi, jelas karena tercampur dengan sabun pemutih itu! Dan wangi yang tercium … ya dari sabun itu!

Saya sangat-sangat panik! Rasanya di mulut dan di perut mulai aneh. Dengan terburu-buru saya meraih tas selempang kecil, dompet, handphone, dan kunci motor. Yang di kepala saya hanya satu: saya butuh air kelapa! Batas pengetahuan saya tentang menangani keracunan hanyalah tentang air kelapa. Maka saya segera melesat mencarinya.

Saya sadar hari sudah malam, pukul setengah sembilan. Sebenarnya saya tahu, ada penjual es kelapa muda di sekitaran depan kampus. Tapi kalau malam? Tentu tidak ada. Lalu saya kepikiran penjual kelapa di dekat rumah sahabat saya, Aira. Saya tancap gas ke sana. Nahas, tempat itu tutup.

Kemudian saya lanjut saja menuju kediaman Aira. Saat itu saya sedang tidak bisa berpikir dengan baik. Saya pun tak tahu apa yang akan saya lakukan di sana, saya hanya ingin berkunjung dan bertanya tentang penjual kelapa muda. Barangkali dia tahu, karena kepala saya benar-benar tidak bisa berpikir, sudah telanjur panik.

Pintu itu saya ketuk dengan keras, Aira muncul dari balik pintu dengan heran. Saya menerobos masuk dan mencari air minum. Waktu itu bukan air putih yang ada―lupa apa―tapi tetap saya minum. Melihat saya yang belingsatan Aira benar-benar heran. Tapi ini bukan waktunya untuk bercerita. Pertama, saya sedang tidak fokus. Kedua, saya buru-buru harus menemukan kelapa muda. Ketiga, jika Aira tahu keadaan saya, hal pertama yang pasti dia akan lakukan adalah mentertawaiku, bukannya prihatin atau memberi solusi―khas sahabat.

“Penjual kelapa muda di mana? Yang di sana tutup. Aku butuh buru-buru,” ujarku tanpa jeda.

“Di mana ya? Untuk apa sih? Ada yang minta tolong sama kamu? Butuh cepet sekarang ini juga?” Dia malah banyak bertanya.

“Iya. Aku cari dulu ya.” Saya langsung melesat keluar dari rumahnya dengan tergopoh-gopoh, dia benar-benar heran. Walau saat itu dia belum memberikan jawaban apa-apa. Dan saya merasa responsnya lambat, saya ini sedang panik!

Saya kemudian teringat sesuatu. Ada banyak penjual kelapa muda di bypass, dan buka sampai malam! Saya segera ke sana. Di sepanjang perjalanan saya lebih banyak berkendara dengan satu tangan kanan saja. Tangan kiri lebih sering memegang perut. Saya benar-benar mual, perut rasanya aneh … saya tidak bisa menggambarkan situasi itu, intinya reaksi di tubuh saya aneh. Rasanya limbung, dan saya khawatir akan jatuh pingsan sebelum saya sampai.

Mungkin kedengarannya lebay. Mungkin itu hanya reaksi berlebihan saya karena pertama kali kejadian itu saya alami. Keracunan! Keracunan! Itu terus yang saya pikirkan. Sugesti itu mungkin yang membuat kondisi saya semakin parah. Maka di sisa perjalanan saya berusaha berpikir positif untuk meyakinkan diri bahwa saya baik-baik saja.

Saya sampai―lupa, waktu itu di bundaran yang mana, kan ada dua. Dengan gerakan serba kilat saya turun dari motor lalu memesan kelapa.

“Kelapanya satu, Bu. Saya minum di sini. Tolong juga gelasnya yang besar.” Saya sebenarnya tahu, di meja ada disediakan sedotan dan sendok―untuk makan daging kelapanya―tapi saya sangat butuh sebuah gelas besar, bukannya pakai sedotan.

Ibu itu lalu ‘membuka’ sebuah kelapa dan menuang airnya pada gelas besar. Dengan gegas saya menenggaknya terburu-buru. Ibu itu masih berdiri di samping saya duduk sambil memegang buah kelapa itu―yang masih ada sedikit air di dalamnya.

“Ini masih ada airnya,” ujarnya setelah melihat isi gelas itu tandas dalam sekejap. Saya lalu menyodorkan gelas itu padanya. Terisi lagi. Si ibu kemudian membelah kelapa itu dan menyerahkannya ke saya.

Sebenarnya saya tidak butuh daging kelapanya, tapi saya mengangguk saja. Berikutnya, ketika saya sudah mulai tenang, dan badan mulai agak rileks, saya menikmati daging kelapa itu sambil memandang kosong ke bundaran. Lalu-lalang kendaraan yang begitu ramai membuat lokasi itu jadi semarak dan menyala-nyala dengan seluruh lampu-lampunya. Hiruk-pikuk khas bundaran.

Sambil menatap keramaian itu dengan pandangan kosong, saya membayang-bayangkan kejadian yang baru saja saya alami. Sesuatu yang ‘menakjubkan’ sepanjang hidup saya. Menenggak SABUN CAIR PENGHILANG NODA/PEMUTIH PAKAIAN―di pikiran saya, sabun pemutih lebih ‘keras’ daripada sabun cuci biasa―PLUS SODA!!!!! Ya, saya merasa perlu memberinya lima tanda seru. Bayangkan saja!

So, kesimpulan dari cerita kali ini adalah … jangan teledor! Jangan sembrono! Jangan ngeyel! Dan berusaha sebaik mungkin memperhatikan pertanda yang diberikan semesta, sekecil apa pun itu.

Minggu, 06 Mei 2018

Dunia Lain dari Semut


“Krek, krek, krrr … plk, plk, plk … ng, ng … ng ….”
―Minuscule Valley of the Lost Ants
(Oh, sungguh, saya tidak tahu harus mengutip apa dari film itu.)

Judulnya Minuscule Valley of the Lost Ants. Ceritanya tentang seekor semut yang terpisah dari rombongannya. Kemudian terjadi peperangan antara semut hitam dan semut merah. Di tengah perjalanan si-semut-hilang ia bersahabat dengan seekor kepik.

Em … errrr … mari saya simpulkan saja. Intinya, film ini menceritakan tentang persahabatan, kerja sama, dan jangan serakah, jangan mengambil yang bukan hak. Ya, begitulah. Saya lupa dari mana mendapat film ini. Awalnya saya hanya melihat sekilas isinya, lalu saya menyimpannya untuk ditonton bareng Adik ketika pulang.

Sesuai rencana, kami menontonnya dan langsung bengong kolaborasi terpingkal-pingkal. Film ini sunyi! Ya, bukan sunyi juga sih, karena tetap ada suaranya kok. Hanya saja … semua tokohnya adalah binatang. Biasa memang, karena kita bisa dengan mudah menjumpai film dengan tokoh binatang, tapi bisa berbicara seperti manusia. Kalau yang ini … mereka benar-benar bersuara sesuai dengan kehidupannya. Semut, kepik, dan serangga lainnya.

Mungkin ini sama fenomenanya dengan film bisu. Eh, tapi ya enggak juga sih, kalau film bisu kan enggak ada dialognya, sedangkan ini tetap ada dialog tapi kita enggak mengerti bahasanya. Itu!

Sepanjang film tidak ada bahasa atau errr … kata manusia. Kami hanya mendengar dengungan-dengungan, yah … suara ‘khas’ para binatang itu. Bagian yang juga membuat kita terpingkal-pingkal adalah pada saat pertempuran antara semut hitam dan semut merah. Memang kesannya tidak masuk akal, saya dan adik lalu membayang-bayangkannya “Memang isinya rumah semut seperti itu ya?” lalu terpingkal-pingkal lagi.

Jadi … faedahnya adalah … ya itu tadi, sesederhana itu, film ini menceritakan persahabatan, kerja sama, dan jangan serakah. Itu!

Durasinya kurang lebih 1 jam 20 menit dan kami bertahan menontonnya hingga akhir. Melelahkan dan sesekali ada rasa bosan. Terlalu sepi.

Seperti yang saya katakana tadi, bukannya tidak ada percakapan, ada, banyak malah. Tapi kita enggak paham bahasanya dan enggak ada subtitle-nya. Ya iyalah! Siapa yang bisa bikinkan subtitle film itu?! (kalau memang berdasarkan bahasa semut)

PS: nontonlah film ini, sangat direkomendasikan!

Rabu, 02 Mei 2018

Gathering Aroma Karsa



“Penciuman adalah jendela pertama
manusia mengenal dunia.
Dunia ini sesungguhnya dunia aroma.”
―Aroma Karsa, Dee Lestari

Hari itu saya bangun kesiangan. Bersiap dan mandi dengan terburu-buru. Perjalanan ke Kota Itu akan menghabiskan waktu berjam-jam, dan saya bertekad untuk tidak terlambat sampai Beruntung, saya memang tidak terlambat. Tiba tepat pada saat registrasi dibuka. Sebagai ‘pelanggan penuh’ yang bergabung di Digital Tribe dan memegang Priority Pass, saya termasuk yang masuk duluan ke ruang acara. Senang iya, bangga iya.

Priority Pass punya saya. Uyeah!

Ketika masuk, otomatis kami duduk berombongan sesama Digital Tribe dan paling depan. Kita langsung heboh. Saling berkenalan dan menanyakan asal daerah. Maklum, biasanya kita hanya bersua di grup Facebook saja.

Nah, ini kami (sebagian kecil) dari Digital Tribe

Begitu acara dimulai … saya tidak bisa menggambarkan perasaan itu. Penulis idola saya ada di hadapan. Dirinya terlihat langsung oleh mata, suaranya terdengar langsung di telinga. Haru dan gugup, membuat hasil video yang saya rekam jadi bergetar-getar. Ketahuilah, bahwa saat itu saya sedang berjuang untuk meredakan sesenggukan, menahan agar air mata tidak berlinang, sambil menggigit-gigit bibir.

Kami (Digital Tribe) juga diberikan kesempatan untuk foto bareng. Saat itu pertama kali saya bersalaman dengan Dee Lestari dan Reza Gunawan (sebagai suami dan produser). Pada saat sesi bincang-bincang, beberapa kali Digital Tribe disebut-sebut untuk menunjukkan diri. Dengan semarak membahana kami berseru dan bertepuk tangan. Di saat-saat seperti itulah saya jadi manusia yang heboh. Dan saya selalu tertawa geli saat mengingat diriku saat itu. Mungkin karena faktor tidak ada satu pun yang mengenaliku plus emosi yang sedang memuncak karena bahagia.

Ya, saya jadi manusia yang heboh, dalam tertawa, berseru, dan tepuk tangan. Namun tetap saja, heboh yang terkontrol. Karena saya tetap tidak ingin menonjol. Saya tetap saya. Tidak ingin terlihat, tidak ingin mengambil perhatian. Maka saya menyesuaikan  seruan-seruan saya dengan yang lainnya.

Sesi tanda tangan, menjadi bagian paling mendebarkan. Saat itu saya kembali berjabat tangan, duduk bersebelahan, dan ‘sedikit’ ngobrol. Ya, sedikit. Kalimat yang sudah saya siapkan menguap begitu saja. Saya seperti orang linglung, enggak tahu mau ngomong apa. Tapi saya tetap bersyukur.

Setelah acara selesai, saya kembali linglung. Hendak ke mana kemudian? Memang sih, saya pasti akan ke Gramedia terdekat karena ada sepupu yang pesan buku. Tapi setelahnya? Saya berdiri lama di depan gedung itu. Sampai akhirnya memutuskan untuk segera ke toko buku saja dulu. Tempat berikutnya bisa dipikir nanti.

Saya tidak menghabiskan banyak waktu di Gramedia karena kepala saya sakit, mungkin karena euforia yang berlebihan tadi. Begitu mendapatkan buku yang saya cari, saya segera membayar dan keluar. Di depan toko buku, saya terduduk lama, bingung, dilema. Masak cuma begini saja? batin saya waktu itu. Maklum, jauh-jauh ke kota itu masak hanya sampai di situ saja jalan-jalan saya? Kok kayaknya kurang ‘sesuatu’? Saya ke sini sendirian, seandainya ada teman, tentunya lebih tenang karena ada yang diajak diskusi.

Saya sempat juga berjalan-jalan sebentar di trotoar, tapi tidak jauh-jauh dari Gramedia―karena menghemat tenaga―sambil terus berpikir. Kemudian saya memutuskan untuk berkunjung ke museum saja karena memang di kota ini jumlah museum sampai belasan. Saya hanya bisa mengunjungi tiga musem saja. Oleh ibu-ibu GO-JEK bahkan ditanya, “Mbaknya lagi tour museum, ya? Tapi kok sendiri?”

Oh ya, ibu itu juga mengajak ngobrol banyak di perjalanan. Dan pertanyaan paling mencengangkan adalah “Bagaimana sih caranya biar bisa punya bakat kayak Mbak, gitu? Kok orang-orang itu bisa pintar?”

“A … ah …, hah?” Terbata-bata dan linglung saya meresponsnya. Sampai di situ saja, percakapan berikutnya sangat panjang. Saya tidak sanggup mengetikkannya.

Nah, saya membatasi sampai tiga museum saja. Karena pertama, saya belum makan nasi sejak pagi. Kedua, hari sudah sore, kalau dihitung-hitung waktu perjalanan pulang, saya akan tiba malam hari. Jadi ya pulang saja.

Well … seperti itulah perjalanan saya di Kota Itu. Sebenarnya sudah yang ketiga kali saya ke sana. Tapi ini baru pertama kali saya pergi sendiri. Awesome!

PS: sayang banget nggak foto bareng Bapak Produser, hehehe.

Bareng Ibu Suri :)
 
EDITOR :)

Sambutan dari Digitribe

Bahagia Itu Sederhana. Memandangi Jemuran yang Penuh, Misalnya.

Ya. Itu.

Sabtu, 28 April 2018

Baca Sampai Habis


“Kalau kita tidak mau membentuk kebiasaan baik kita,
maka kebiasaan buruk sedang membentuk kita.”
―Hoeda Manis


“Tuhan bersahabat dengan diam. Kembang tumbuh tanpa kata,
dan bulan bergerak tanpa berisik.”
―Hoeda Manis


Halo … pembaca blog! Rindu, nih. (Ngomong sama diri sendiri).
 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo