Jumat, 11 Mei 2018

Cium Lutut dalam Rangka Rindu Adik


Saya tuh rindu ….

Rindu eyelannya adik ….

Rindu suara gergajinya, suara palunya, suara ketika ia berkata “Ngoten? Ngoten to … ngoten?[1]” Tentu itu adalah ejekan.

Selalu ada rahasia-rahasia di antara kami. Misalnya saja, saya merahasiakan tanggal kepulanganku dan dia merahasiakan hal-hal baru yang ada di rumah. Saya merahasiakan oleh-oleh untuk dirinya dan dia merahasiakan ornamen baru―buatannya―di kamarku.

Kami adalah orang-orang yang enggak bisa dibuat penasaran, tapi kami saling melakukannya, saling menyiksa. Biasanya kami akan saling meminta clue dan menebak-nebak. Tapi tetap tak terpecahkan, kita saling mengecoh.

….

Saya adalah orang paling cerewet tentang dia yang harus rutin mencium lututnya. Kalau kami sedang duduk-duduk lalu saya ingat hari itu dia belum mencium lututnya, maka saya akan mengingatkannya. Hal itu adalah ritual penting yang saya wajibkan untuk dilakukan olehnya.

“Cium lutut dulu.”

Lalu dia tinggal memberdirikan kakinya yang tertekuk, mencium lututnya dengan efek bunyi “Muaaach!” penuh penekanan dan begitu menghayati.

Kalau sudah begitu, saya akan menoyor kepalanya. “Yang bener!” sambil terpingkal-pingkal. Dia tahu, bukan ‘mencium lutut’ seperti itu yang saya maksud. Tapi terkadang dia memang jahil plus sepertinya sudah bosan dengan suruhanku yang satu itu.

Mencium lutut: gerakan duduk sambil meluruskan kedua kaki rapat ke depan, lalu membungkukkan badan hingga kepala menyentuh lutut. Apa ya namanya dalam olahraga? Saya tidak tahu istilahnya―dan tidak mencari tahu―untuk itu, biar mudah maka saya menyebut gerakan itu ‘mencium lutut’.

Seperti percakapan via telepon terakhir:

“Sudah cium lutut?”

“Em …” jeda dua detik, saya sudah tahu arti di baliknya. “E … sudah,” jawabnya lirih.

“Ayo cepat! Sekarang.”

“Iya-iya … sebentar.”

“Ya sekarang.” Hening. “Halo … halo,” panggilku.

Dua detik kemudian, “Nah … sudah.”

“Kamu dari mana, sih?” saya sewot.

“Katanya suruh cium lutut …,” ujarnya sebal.

“Oh ….”

Entah kenapa, menurutku orang yang bisa ‘mencium lutut’ itu keren. Pasalnya dulu ketika jaman sekolah dan pelajaran olahraga, saya tidak bisa melakukan gerakan itu. Hanya sedikit teman-teman yang bisa melakukannya dengan sempurna.

Untuk itu, sejak beberapa tahun yang lalu, ketika saya sadar adik saya bisa melakukannya dengan mudah―pasti karena tulangnya masih lentur―maka saya gencar menyuruhnya berlatih. “Biar tetap bisa, gak sakit,” ujar saya.

Pernah beberapa bulan berlalu tanpa saya mengingatkannya dan dia sama sekali tidak melakukannya. Karena … dia itu kalau enggak disuruh enggak akan gerak! Jadi saya mengingatkannya lagi.

“Sudah?”

“Iya, sudah,” jawabnya di seberang sana.

“Sakit gak?”

“Hehe … iya, sakit,” terdengar kekehannya.

“Nah, kan!” saya gemas. Kalau gerakan itu tidak latih, lama-kelamaan akan sakit di punggung saat mencobanya lagi, dan bisa jadi malah tidak bisa lagi melakukannya sama sekali.


Selain itu, saya juga rindu dialog-dialog absurd dengannya. Misalnya tentang pesan singkat di suatu malam:

“Mbak, sekarang kamu sibuk apa?”

“Kenapa?” Saya balas bertanya karena jawaban pertanyaan itu ‘tergantung’. Tergantung dia mau ada apa? Bisa jadi saya sibuk dan tidak sibuk.

“Jawab saja.”

“Gak ada apa-apa.”

“Ooh, ya udah besok aku mau ngomong. Ok.”

Lah, kenapa gak sekarang aja? Kalau gitu ngapain nanya? Pesan itu tidak saya balas.

Satu jam kemudian ada pesan baru. “Semoga kamu bisa.”

“Apa? Beli online?” Dugaan saya itu. Karena belakangan dia heboh mau beli drone secara online.

“Besok aja.”

Tidak saya balas lagi. Dia memang suka aneh. Abaikan saja.

….
….

Jadi, sudahkah kamu mencium lututmu hari ini?



[1] Begitu? Begitu ya … begitu? (dalam bahasa Jawa halus)

0 komentar:

Posting Komentar

 
©Suzanne Woolcott sw3740 Tema diseñado por: compartidisimo